13/06/2021

Musim Penghujan, Tercatat Ada 82 Kasus DBD di Musi Rawas

MUSI RAWAS- Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Musi Rawas (Mura) mencatat, sejak Januari hingga Oktober 2019, sebanyak 82 kasus warga terjangkit Demam Berdarah Dengue (DBD). Data ini didapatkan, berdasarkan laporan dari petugas medis Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) masing-masing kecamatan di Kabupaten Mura.

Kadinkes Mura, Hj Miptahulummi melalui Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Edwar saat dikonfirmasi belum lama ini mengatakan dimana untuk data pada November 2019 masih dilakukan perekapan.

Adapun penyebab meningkatnya warga terkena DBD disebabkan lingkungan yang lembab, membuat penyebaran nyamuk lebih cepat dari biasanya. Dan semuanya data yang mereka terima positif terkena DBD, makanya untuk mengurangi jumlah tersebut, pihaknya terus menyosialisasikan tentang bahaya nyamuk Aedes Aegypti kepada masyarakat.

Menurut Edwar, perkembangan nyamuk DBD sangat cepat, pihaknya sudah menginstruksikan kepada petugas Puskesmas. Agar aktif dalam menyosialisasikan kepada masyarakat tentang bahaya penyakit DBD.

“Ketika ada masyarakat yang terkena gejala segera ditangani dengan baik, apalagi jika sudah ada muncul bintik-bintik merah di kulit. Kalau tidak segera diberi pengobatan, maka dikhawatirkan kondisi tubuh akan ngedrop dan bisa menimbulkan kematian,” kata Edwar.

Untuk sekarang masyarakat yang terkena DBD baru sebatas gejala, namun kalau tidak diantisipasi sejak dini. Maka penyebaran nyamuk DBD ini akan semakin luas.

“Kita minta kepada masyarakat agar tetap menjaga lingkungan tempat tinggal tetap bersih dan nyaman, karena kalau lingkungan bersih, dan tidak ada genangan air, maka pertumbuhan nyamuk dapat dikurangi,” ucapnya

Terpisah salah seorangwarga Desa Taba Remanik, Armi (40) mengatakan bahwa didesanya sudah mulai sejak lima bulan terakhir penyakit DBD menyerang didesanya. Namun belum perna ada tindakan dari Dinas terkait.

“Waktu beberapa bulan lalu, anak saya terkena penyakit DBD. Badannya panas selama lima hari jadi kita bawa berobat ke Puskesmas Selangit, namun tidak juga sembuh. Akhirnya dirawat di RS Sobirin selama tiga hari, alhamdulillah sembuh,” kata Armi.

Dirinya mengharapkan kepada pihak terkait untuk selaluh  melakukan fogging di titik-titik rawan secara menyeluruh, jangan ada korban baru dilakukan fogging. Karena tujuannya agar kejadian serupa tidak terulang kembali dan memakan korban.

“Terlebih saat ini musim penghujan, hal itu sangat bermanfaat dalam pencegahan perkembangan nyamuk tersebut,” terang pria tinggi ini. (dlt)

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: